Nasional
Beranda » Nasional » UEA & Qatar Diam – Diam Bujuk Presiden Donald Trump Untuk Hentikan Perang 

UEA & Qatar Diam – Diam Bujuk Presiden Donald Trump Untuk Hentikan Perang 

NASIONAL-M24

Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar diam-diam melobi sekutu mereka membantu kedua negara itu membujuk Presiden Donald Trump untuk mendapatkan jalan keluar agar operasi militer AS di Iran berjalan singkat.

Sumber-sumber mengatakan bahwa kedua negara ini berupaya membangun koalisi lebih luas agar bisa tercapai penyelesaian konflik secara cepat melalui jalur diplomasi, yang bertujuan mencegah peningkatan ketegangan di kawasan dan harga energi yang tinggi.

Satu penilaian dari Qatar yang dibagikan oleh Bloomberg News memperingatkan bahwa jika jalur kapal di kawasan masih terganggu hingga pertengahan minggu ini, pasar akan bereaksi lebih signifikan terhadap harga gas alam dibandingkan dengan kenaikan tajam yang terjadi pada Senin (2/3).

Qatar menghentikan produksi LNG di fasilitas ekspor terbesar di dunia setelah menjadi sasaran serangan drone Iran. Akibatnya, harga gas di Eropa naik lebih dari 50%.

Usai Sebut Akan Jadikan Iran ke Zaman Batu, Iran Kirim Rudal ke Israel 

Sumber-sumber menyebutkan bahwa di balik layar, UEA dan Qatar berupaya meningkatkan kemampuan pertahanan udara mereka. Para pejabat kementerian luar negeri kedua negara belum memberi komentar atas hal tersebut.

UEA meminta bantuan kepada negara-negara sekutu, berupa pertahanan udara jarak pendek, sementara Qatar meminta bantuan untuk melawan serangan drone—yang terbukti menjadi ancaman lebih kuat dibanding rudal balistik.

Cadangan Patriot, pencegat rudal, milik Qatar hanya akan bisa bertahan untuk empat hari jika digunakan di level saat ini.

“Angkatan Bersenjata Qatar berulang kali memperlihatkan kemampuan negara itu dari serangan negara lain dan tetap siap siaga melindungi seluruh warga, penduduk, dan pengunjung selama mungkin,” tulis pernyataan Kantor Media Internasional pemerintah Qatar.

Terkait isu bahwa jumlah rudal menurun, Angkatan Bersenjata Qatar mengatakan “cadangan rudal pencegat Patriot tidak berkurang dan masih cukup.”

Kejari Karo Terancam dicopot Terkait Kasus Amsal Sitepu 

Qatar mengatakan berhasil menjatuhkan dua jet tempur Sukhoi Su-24 milik Iran dan mencegat tujuh rudal balistik. Negara itu juga mengklaim berhasil mencegat lima drone. Ancaman serangan itu dideteksi sejak awal dan seluruh rudal ditembak jatuh sebelum mencapai sasaran.

Pada Senin (2/3), Kementerian Pertahanan mengatakan Qatar diserang oleh dua drone Iran, satu menyasar kolam air di pembangkit listrik Mesaieed dan satu lagi menuju fasilitas energi di Ras Laffan.

Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan dan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani telah melakukan hubungan telepon dengan sejumlah pemimpin Eropa seperti Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Sebelum perang ini, negara penengah – terutama Qatar yang berhasil menjalin hubungan bisnis dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner selama beberapa tahun sebelumnya – berupaya keras meminta agar kedua belah pihak menahan diri.

Sejumlah sumber dari Barat mengatakan kerajaan-kerajaan Teluk ini juga menggembar-gemborkan visi Iran yang dibuka kembali untuk modal dari negara Barat melalui kerja sama energi, investasi di bidang infrastruktur dan koridor keuangan dari Houston ke Tehran.

Keluarga 3 TNI Gugur Dirudal Israel Dapat Santunan 1,8 M 

Usul ini sejalan dengan rencana tim Trump, dengan kesepakatan besar yang berpotensi membuka kembali industri minyak Venezuela setelah pasukan khusus AS melakukan invasi dan menangkap Nicolas Maduro.

Satu pejabat Qatar yang terlibat dalam rencana ini adalah Ali al-Thawadi, yang juga duduk dalam Dewan Keamanan dan ikut dalam perundingan antara AS dan Iran.

Namun, di sekeliling Trump, para sekutu yang saling bersaing ini mengajukan tekanan dari berbagai arah. Qatar meminta perdagangan, stabilitas dan janji normalisasi hubungan ekonomi dengan Tehran, sementara para pejabat Israel mengacu pada identitas politik bersama, kepentingan keamanan, dan kredibilitas doktrin perdamaian melalui kekuatan ala Trump.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan