Berbicara tentang jalan jalan di kota medan, tidak lengkap rasanya kalau belum mampir di Masjid Raya Al-Mashun
Masjid Raya Al-Mashun di Kota Medan bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Sumatera Utara.
Masjid ini merupakan peninggalan Kesultanan Deli dari awal abad ke-20 yang hingga kini tetap menjadi salah satu landmark paling penting di Medan.
Masjid yang terletak di Jalan Sisingamangaraja ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maโmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah dan diresmikan pada 10 September 1909.
Sejak saat itu, masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat, sekaligus menandai tonggak penting perkembangan Islam di wilayah Medan.
Dalam jurnal Masjid Raya Al-Mashun Medan, Ikon Arsitektur Kolonial-Islam dalam Konteks Sejarah dan Budaya Sumatera Utara yang dimuat dalam Jurnal Kajian Ilmu Seni, Media dan Desain (Abstrak), Volume 2 Nomor 1 Tahun 2025.
Dijelaskan bahwa masjid ini merupakan contoh perpaduan arsitektur kolonial dan Islam yang unik. Masjid menggabungkan unsur arsitektur Timur Tengah, India, dan Eropa, sehingga menciptakan desain yang khas dan bersejarah.
Perancangan bangunan dilakukan oleh arsitek Belanda Van Erp dan diselesaikan oleh J.A. Tingdeman. Material yang digunakan pun didatangkan dari berbagai negara, seperti marmer dari Italia, kaca patri dari China dan Eropa, serta lampu gantung dari Prancis. Kombinasi material tersebut semakin memperkuat nilai estetika dan keunikan bangunan.
Secara arsitektur, ruang utama masjid memiliki bentuk segi delapan dengan kubah besar bergaya Turki yang menjadi ciri khasnya. Pilar-pilar marmer kokoh menopang struktur bangunan, sementara jendela kaca patri berwarna memberikan kesan megah dan religius.
Selain itu, menara masjid yang berdiri terpisah mengikuti gaya arsitektur Timur Tengah, menambah karakter visual yang kuat.
Selain nilai arsitektur, Masjid Raya Al-Mashun juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Masjid ini menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, seperti salat berjamaah, pengajian, hingga perayaan hari besar Islam.
Tradisi pembagian bubur sop saat Ramadan menjadi salah satu kegiatan yang masih dilestarikan hingga sekarang, sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian sosial masyarakat.
Masjid Raya Al-Mashun juga memiliki nilai historis yang kuat karena di area masjid terdapat makam Sultan Maโmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, pendiri masjid tersebut.
Keberadaan makam ini semakin mempertegas posisi masjid sebagai bagian penting dari sejarah Kesultanan Deli dan perkembangan Kota Medan.
Hingga kini, Masjid Raya Al-Mashun tetap menjadi simbol perpaduan budaya, agama, dan sejarah di Medan. Selain menjadi pusat ibadah, masjid ini juga menjadi daya tarik wisata religi yang dikunjungi masyarakat lokal maupun wisatawan dari berbagai daerah dan negara.
Keberadaannya menjadi bukti nyata perjalanan panjang sejarah Islam dan perkembangan kota Medan dari masa Kesultanan hingga era modern.


Komentar