Ketua Persatuan Mediagram Sumatera Utara (PERMEDSU), Ahmad Sanusi, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) secara berlebihan di tengah berbagai isu yang beredar belakangan ini.
Menurutnya, kepanikan justru berpotensi memicu kelangkaan sementara di lapangan, meskipun distribusi BBM sebenarnya masih berjalan normal.
โTidak perlu panik atau membeli BBM secara berlebihan. Jika masyarakat membeli sesuai kebutuhan, maka distribusi akan tetap stabil dan seluruh masyarakat dapat terpenuhi kebutuhannya,โ ujar Ahmad Sanusi, Minggu (8/3/2026).
Ia menjelaskan, fenomena antrean panjang di sejumlah SPBU kerap dipicu oleh kekhawatiran yang berlebihan. Padahal, jika pola konsumsi masyarakat tetap wajar, maka pasokan energi dapat dikelola dengan baik.
Ahmad Sanusi juga mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama aparat terkait untuk memperketat pengawasan terhadap distribusi BBM di berbagai daerah.
Menurutnya, langkah tersebut penting guna mengantisipasi kemungkinan adanya oknum yang mencoba memanfaatkan situasi dengan melakukan penimbunan demi keuntungan pribadi.
โPengawasan di lapangan harus diperkuat. Jika ada oknum yang terbukti melakukan penimbunan atau permainan distribusi BBM, maka harus ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku,โ tegasnya.
Ia menambahkan, pengawasan yang kuat tidak hanya menjaga kelancaran distribusi energi, tetapi juga penting untuk mencegah keresahan di tengah masyarakat.
โKita semua perlu menjaga situasi tetap kondusif. Dengan kerja sama antara pemerintah, aparat, dan masyarakat, stabilitas distribusi BBM di Sumatera Utara dapat tetap terjaga,โ katanya.
Diketahui, sejak 4 Maret 2026 sejumlah SPBU di Kota Medan mengalami antrean panjang kendaraan. Kondisi ini dipicu kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terganggunya pasokan BBM akibat memanasnya situasi konflik di kawasan Timur Tengah.(ahmad)


Komentar